Dari Bibit menjadi Duit: Sejarah Perkembangan Usaha Pembibitan Tanaman di Dusun Kalangan
Magelang dikenal luas sebagai daerah yang memiliki tinggalan sejarah penting dari Dinasti Syailendra, yakni Candi Borobudur. Melalui relief-reliefnya, kita mengetahui bahwa masyarakat pada masa tersebut telah mengenal berbagai pohon, seperti pohon bodhi, siwalan, nangka, sukun, pinang, pisang, mangga, durian dan banyak flora-flora lainnya (Fauziah dkk.: 2018). Tidak jauh dari Candi Borobudur, tepatnya di sekitar Km 13–14 Jalan Magelang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman, kini berkembang kegiatan pembibitan berbagai jenis pohon, termasuk beberapa jenis yang digambarkan dalam relief Candi Borobudur.
Salah satu dusun di Desa Sidomulyo yang mengembangkan usaha pembibitan adalah Dusun Kalangan. Apabila menjelajahi dusun ini, pada sepanjang jalan baik dengan menengok ke kanan dan kiri maupun dengan memasuki gang-gang di dalamnya, akan terlibat berbagai jenis bibit yang terbariskan dengan rapi. Lalu, bagaimana awal mula usaha pembibitan ini dimulai serta bagaimana perkembangannya hingga menjadi sebesar sekarang?
Pra-Pembibitan
Sebelum mengenal kegiatan pembibitan, masyarakat Dusun Kalangan lebih banyak bergerak di industri pembuatan genteng dan batu bata. Pada masa tersebut, beberapa dusun di sekitar Kalangan sebenarnya sudah lebih dahulu mengembangkan kegiatan pembibitan. Beberapa pembibit menyatakan bahwa pada tahun 2015 kegiatan pembibitan belum berkembang di Dusun Kalangan, sementara di Dusun Sumberan dan beberapa dusun lainnya usaha ini sudah berjalan, dengan jenis bibit yang banyak ditanam adalah bibit rambutan.
Ide Pembibitan
Sekitar tahun 2017-an, geliat usaha pembibitan mulai tumbuh di Dusun Kalangan. Awalnya, bidang ini hanya ditekuni oleh segelintir warga. Namun, keadaan berubah drastis seiring hadirnya pemasaran digital. Promosi melalui media sosial facebook membuat permintaan pasar melonjak tajam. Hal ini memicu banyak masyarakat lainnya untuk ikut terjun pada bidang ini. Tidak hanya skala pemasarannya yang bertambah luas, jenis tanamannya pun kian beragam. Jika sebelumnya rambutanlah yang menjadi varietas unggulan, pada masa ini mulai dikembangkan juga pembibitan durian dan alpukat. Pengembangan tersebut diikuti dengan metode pembibitan yang lebih baik untuk mendapatkan hasil dengan kualitas terbaik, setelah benih ditanam dan tumbuh beberapa senti, dilakukan metode okulasi dan menyambung.
Lingkungan Usaha dan Perkembangan
Pesatnya minat pasar mendorong semakin banyak warga beralih menjadi petani bibit. Fenomena ini menciptakan pembagian peran yang unik: golongan sepuh tetap fokus memegang kendali produksi, sementara generasi muda mengambil peran vital di bidang pemasaran berkat kemahiran mereka memanfaatkan teknologi informasi. Sayangnya, meski skala usahanya besar, mayoritas petani masih berjalan sendiri-sendiri. Hal ini memicu persaingan yang cukup ketat di antara mereka. Saat ini saja, setidaknya terdapat 23 titik pembibitan yang tersebar di sepanjang Dusun Kalangan. Perkembangan ini membawa tantangan tersendiri. Meski akses pasar semakin luas, kompetisi di tingkat lokal menjadi semakin sengit karena usaha-usaha tersebut masih berdiri sendiri (individualis). Hal ini, ditambah dengan dampak pandemi COVID-19 yang sempat memukul daya beli, menyebabkan pendapatan para petani saat ini cenderung menurun jika dibandingkan dengan masa kejayaan mereka di awal memulai usaha (sebelum pandemi).
Di tengah situasi tersebut, muncul fenomena menarik terkait pembagian peran di dalam rumah tangga. Pada banyak keluarga petani, tercipta sinergi yang harmonis: suami fokus pada aspek teknis seperti perawatan dan pembesaran benih hingga siap jual, sementara istri mengambil peran strategis dalam manajemen pemasaran daring. Namun, pola ini tidak berlaku merata; tidak jarang pula usaha pembibitan ini dikelola sepenuhnya secara mandiri oleh satu pihak saja, mulai dari proses produksi hingga penjualan.
Dukungan
Hal yang paling menonjol dari kesuksesan Dusun Kalangan adalah sifatnya yang otodidak. Para petani minim mendapatkan dukungan, baik berupa pelatihan peningkatan keterampilan (skill) maupun pendampingan teknis lainnya. Pengetahuan tentang pembibitan sebagian besar didapatkan secara mandiri melalui uji coba pribadi (trial and error), bukan melalui program pembinaan resmi atau penyuluhan pertanian.
Referensi
Fauziyah, Titut Yulistyarini, Dewi Ayu Lestari, dkk. 2018. “Buku Panduan Wisata Edukasi: Relief Flora Candi Borobudur” Pasuruan: Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi LIPI bekerja sama dengan Pusat Penelitian Biologi LIPI dan Balai Konservasi Borobudur.
Wawancara pribadi dengan Ahmad Heru Prasetilyo dan Nurhadi di Dusun Kalangan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, 19 Januari 2026.
