Jejak Bibit sebagai Nadi Ekonomi Desa
Usaha pembibitan menjadi salah satu sektor penyokong perekonomian utama di Desa Sidomulyo, termasuk di Dusun Kalangan. Perkembangan usaha pembibitan di Dusun Kalangan tidak terlepas dari inisiatif dan pengalaman para pelaku lokal, dua di antaranya adalah Nurhadi dan Ahmat Heru Prasetilyo atau yang lebih akrab disapa dengan Hadi dan Heru. Keduanya adalah pelaku usaha bibit di Kalangan yang berhasil membesarkan usahanya sehingga dapat menjangkau konsumen dari berbagai daerah di Indonesia.
Hadi mulai terjun ke dunia pembibitan pada tahun 2015 dengan belajar langsung dari tetangga dusun. Pada periode 2015-2017, ia fokus pada pembibitan durian dan kelengkeng sebelum kemudian memperluas pengalamannya dengan bekerja di toko pertanian. Setelah bertahun-tahun memahami kebutuhan pasar dan teknik budidaya, pada tahun 2022 Hadi memulai usaha pembibitan miliknya sendiri dengan skala kecil di depan rumah. Seiring meningkatnya permintaan, kapasitas produksi berkembang, yaitu dari 2.000 bibit menjadi lebih dari 5.000 bibit. Hal ini mendorong pemindahan lokasi usaha ke Dusun Kemasan dengan skala yang lebih besar.
Sementara itu, Heru memulai usaha dari langkah yang sangat sederhana. Pada tahun 2015, ia mencoba menanam benih secara mandiri dan membantu mencarikan bibit untuk teman-temannya tanpa modal besar. Keuntungan kecil yang diperoleh, sekitar Rp5.000 per batang, diputar kembali sebagai modal usaha. Strategi ini dilakukan secara konsisten hingga usahanya terus berkembang. Saat ini, Heru mengelola lahan pembibitan di tiga lokasi berbeda, yaitu Karanglo, Petugan, dan Tegal Sari, dengan merek usaha yang dikenal sebagai Planet Green.
Heru dan Hadi sama-sama menyetujui bahwa tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap durian menjadi faktor utama berkembangnya usaha pembibitan di Dusun Kalangan. Pada tahun 2015, kepemilikan kebun durian masih relatif terbatas sehingga peluang pasar bibit durian masih sangat besar. Selain itu, usaha pembibitan memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan karena durian dan tanaman hortikultura lainnya merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi. Tingginya kesuburan tanah di Desa Sidomulyo juga mendukung perkembangan usaha pembibitan ini, hingga menggeser mata pencaharian masyarakatnya yang dahulu memproduksi genteng menjadi pengusaha bibit.
Ketika awal memulai usaha ini, Heru dan Hadi melakukan pemasaran secara offline melalui jaringan lokal dan komunitas. Seiring perkembangan teknologi, media sosial menjadi sarana utama pemasaran. Penjualan kemudian berkembang ke platform e-commerce dan pemasaran digital lainnya. Saat ini, sebagian besar bibit dipasarkan ke luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, dan Bali. Bibit diberikan cairan anti-stres agar tanaman tetap sehat hingga sampai ke tangan pembeli. Tidak hanya itu, perawatan tanaman juga dilakukan secara rutin untuk menjaga kualitas tanaman sekaligus sebagai strategi menjaga kepercayaan pelanggan. Hal tersebut menjadi modal yang penting untuk mempertahankan eksistensi usaha di tengah persaingan yang semakin ketat.
Usaha penyediaan bibit di Dusun Kalangan, Desa Sidomulyo, menunjukkan perjalanan potensi lokal berkembang menjadi pendorong perekonomian desa. Adanya keunggulan desa yang dimanfaatkan dan dikelola oleh pelaku usaha yang tekun dan adaptif terhadap perkembangan teknologi menjadikan pembibitan hortikultura sebagai sektor unggulan desa.
