Nyadran: Tradisi Menjelang Bulan Suci Ramadhan di Desa Sidomulyo, Salaman,Magelang
Nyadran atau yang disebut juga dengan haul besar merupakan sebuah tradisi tahunan menjelang Bulan Ramadhan yang dilakukan oleh warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Tradisi ini dilakukan dengan mengadakan doa bersama untuk para leluhur dan keluarga yang telah wafat, khususnya mereka yang dimakamkan di wilayah desa tersebut. Tradisi yang dilakukan pada setiap dusun tersebut dihadiri lebih dari 500 orang.
Dahulu, waktu pelaksanaan Nyadran ditentukan berdasarkan hitungan hari dan minggu, seperti hari Kamis pada minggu pertama. Namun, sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu, penetapan waktu Nyadran beralih menggunakan penanggalan Hijriah. Hal ini menciptakan urutan jadwal yang tetap bagi setiap dusun, dimulai dari tanggal 2 Ruwah oleh Dusun Ngadikromo, tanggal 3 oleh Dusun Sumberan, dan tanggal 4 oleh Dusun Drojogan. Rangkaian tersebut dilanjutkan oleh Dusun Kembaran pada tanggal 5, Dusun Ngemplak pada tanggal 6, Dusun Sojomerto Lor pada tanggal 7, Dusun Kalangan pada tanggal 8, hingga berakhir pada tanggal 10 di Dusun Sojomerto Kidul.
Persiapan Acara Nyadran
Guna memastikan kelancaran acara Nyadran di Desa Sidomulyo, dibentuklah kepanitiaan di setiap dusun. Panitia tersebut bertanggung jawab menyiapkan rangkaian acara, mengatur iuran warga, dan mengelola distribusi ‘berkat’ (bingkisan makanan yang berisi nasi, lauk-pauk, jajanan, serta buah-buahan). Selain itu, kebutuhan logistik seperti tenda, kursi, dan pengeras suara biasanya tidak lagi menjadi kendala karena mayoritas dusun telah memilikinya secara mandiri.
Kegiatan Sebelum Nyadran
Sebagai persiapan, warga mengadakan kerja bakti untuk membersihkan makam sehari sebelum acara Nyadran dimulai. Namun, kegiatan ini terkadang dilaksanakan lebih awal pada akhir pekan karena menyesuaikan dengan waktu luang masyarakat agar partisipasi lebih maksimal. Kegiatan ini membangkitkan semangat gotong royong dengan melibatkan semua lapisan masyarakat, baik orang tua maupun pemuda desa bergotong royong membersihkan makam, baik dengan mencabut rerumputan yang menghalangi jalan, menyapu dedaunan yang berguguran, maupun menebang cabang pohon yang hampir tumbang.
Selain kerja bakti, rangkaian persiapan juga diisi dengan khataman Al-Qur’an pada malam menjelang hari Nyadran. Pemuda desa mengambil peran utama dalam kegiatan ini. Mereka berbagi tugas membaca juz-juz Al Quran hingga genap khatam sebagai pembuka rangkaian doa besar bagi para leluhur.
Rangkaian Acara Nyadran
Dahulu, tradisi Nyadran dilaksanakan dengan menggelar doa bersama di area pemakaman. Pada saat tersebut, setiap keluarga membawa berkat masing-masing untuk dinikmati bersama. Namun, seiring meningkatnya jumlah peserta Nyadran, lokasi kegiatan dialihkan ke area masjid atau mushola. Karena antusiasme masyarakat yang terus meluap hingga melampaui kapasitas bangunan, panitia kini memasang tenda dan kursi di sepanjang jalan desa, bahkan sebagian warga turut duduk bersahaja di halaman rumah-rumah sekitar.
Pada awalnya, acara ini hanya diisi dengan tahlil dan doa bersama sembari membawa tumpeng atau berkat. Namun, setelah lokasi dipindahkan ke masjid, rangkaian acara sempat ditambah dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an (qiraah), berbagai sambutan, hingga ceramah (mauidzoh hasanah). Kehadiran mauidzoh hasanah tersebut kemudian dinilai membuat durasi acara menjadi terlalu panjang, sehingga kini rangkaian acara inti disederhanakan kembali menjadi pembacaan qiraah, sambutan-sambutan, pembagian berkat, dan puncaknya dengan tahlil atau doa bersama. Adapun di antara mereka yang didoakan ini, prioritas utamanya adalah para leluhur yang namanya telah diabadikan menjadi nama dusun di Desa Sidomulyo, seperti Mbah Kalang, Mbah Sojo, Mbah Kembar, Mbah Sumber, dan sebagainya.
Partisipan Nyadran di Desa Sidomulyo
Acara Nyadran ditujukan untuk mendoakan leluhur di Desa Sidomulyo, sehingga ahli waris akan berdatangan ke acara tersebut. Para keturunan ini sengaja datang dari luar daerah khusus untuk berpartisipasi dalam rangkaian doa bersama bagi keluarga yang telah dimakamkan di sana. Ketika ahli waris yang dianggap tamu bagi masyarakat ini hadir, mereka akan membawa uang amal yang dimasukkan ke dalam amplop dan diberikan kepada panitia. Uang amal ini tersebut akan digunakan untuk kepentingan masyarakat seperti membeli tenda dan kursi untuk acara maupun kegiatan-kegiatan yang lain. Banyaknya tamu yang hadir, terkadang membuat ketersediaan berkat menjadi terbatas. Oleh karena itu, panitia pun menetapkan kebijakan untuk mendahulukan pemberian bingkisan makanan tersebut kepada para ahli waris dari luar daerah.
Kesimpulan
Nyadran di Desa Sidomulyo bukan sekadar ritual tahunan menjelang Ramadhan, melainkan cermin kuatnya jati diri masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Melalui gerak gotong royong, mulai dari bersih makam, khataman Al-Qur’an oleh para pemuda, hingga manajemen logistik yang mandiri. Lebih dari itu, Nyadran menjadi momen “pulang” bagi sebagian ahli waris yang tidak hanya membawa dimensi spiritual, tetapi juga memperbesar perputaran ekonomi desa melalui iuran, uang amal, hingga kebutuhan logistik yang menggerakkan usaha lokal. Kehadiran mereka yang membawa sumbangsih bagi fasilitas desa, dan kebijakan panitia yang mendahulukan tamu dalam pembagian berkat, menunjukkan harmoni sosial yang luar biasa. Pada akhirnya, Nyadran adalah tentang menjaga akar: mendoakan mereka yang telah tiada, sembari mempererat hubungan sekaligus menyejahterakan masyarakat yang masih ada.
Referensi
Wawancara pribadi dengan Nur Wasis N. D. tanggal 2 Februari 2026 di Kantor Balai Desa Sidomulyo.
