Kolam Ikan Kedung Kepis dan Harapan Ekonomi Desa
Di Dusun Kedung Kepis, terdapat kolam ikan yang diharapkan menjadi embrio ketahanan pangan yang dapat direplikasi pada dusun-dusun lainnya di Desa Sidomulyo, termasuk Dusun Kalangan. Oleh karena itu, Subunit Kalangan KKN Menyulam Salaman UGM 2025/2026 merancang program pemberdayaan masyarakat yang mendukung optimalisasi kolam ikan tersebut.
Pembangunan kolam ini diawali oleh kondisi dua RT di Kedung Kepis yang terpisah oleh sebuah lembah, sehingga diperlukan sebuah ruang bersama sebagai tempat pertemuan warga. Oleh karena itu, kolam ikan ini dihadirkan sebagai ruang temu yang diharapkan mampu mempererat interaksi dan kekompakan antarwarga kedua RT tersebut. Selain itu, kolam ini juga membawa harapan warga agar menjadi sarana untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat dan menggali potensi pemuda agar tetap berkembang di kampung halaman.
Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus 2025, kolam ini resmi dibentuk. Berawal dari musyawarah dusun (musdus), kolam ini juga menjadi bagian dari program pembangunan dusun yang disepakati warga. Saat ini, kelompok budidaya ikan yang mengelola kolam ini bernama Kepis Ulam Minulyo. Pengelolaan kolam melibatkan delapan orang pengurus yang berasal dari dua RT di Dusun Kedung Kepis.
Suranto, selaku sekretaris kelompok, menjelaskan bahwa aktivitas pengelolaan dilakukan secara gotong royong. Pertemuan rutin dilakukan langsung di area kolam. Sementara itu, aktivitas harian seperti pemberian pakan sebagian besar dilakukan oleh Hidayat yang juga menjabat sebagai ketua pengelola kolam.
Saat ini, kolam ikan Kedung Kepis membudidayakan ikan nila sebagai komoditas utama. Walaupun begitu, ukuran ikan masih belum seragam sehingga menjadi tantangan dalam pengelolaan. Kelompok pengelola mengakui bahwa keterbatasan pengetahuan teknis masih menjadi kendala utama. Mulai dari pengaturan kualitas air, kecukupan pakan, hingga manajemen pertumbuhan ikan. Meskipun upaya peningkatan budidaya telah dilakukan melalui pendampingan teknis terkait kualitas air, pelaksanaannya di lapangan belum sepenuhnya optimal karena masih dijumpai perbedaan pendapat antarpengurus dalam praktik pemberian pakan. Hingga lima bulan berjalan, ikan belum mencapai ukuran panen, padahal idealnya panen dapat dilakukan dalam waktu tiga hingga empat bulan.
Kendati proses budidaya yang telah berjalan selama beberapa bulan belum menghasilkan panen, kolam ikan Kedung Kepis tetap memiliki prospek pengembangan yang menjanjikan. Jumlah petakan kolam yang cukup banyak membuka peluang peningkatan produksi jika dikelola secara optimal. Selain aspek ekonomi, kolam ikan juga berpeluang menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa. Usaha ini direncanakan sebagai embrio ketahanan pangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang ke depannya berpotensi untuk diperluas dan direplikasi di dusun-dusun lain. Tidak menutup kemungkinan pula adanya kerja sama dengan program lain, seperti MBG, sehingga hasil panen ikan dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan di lapangan, Muhammad Bintang Chaerul Haq, mahasiswa KKN PPM UGM yang bertugas di Dusun Kalangan, menyusun program pemberdayaan yang secara khusus mendukung pengelolaan kolam ikan ini. Bintang telah melakukan diskusi bersama pengurus kolam untuk mengidentifikasi permasalahan dan merumuskan solusi yang realistis. Selain itu, dilakukan pula penyusunan buku panduan praktis yang mencakup tahapan persiapan lahan kolam, pengelolaan pakan dan kualitas air, serta manajemen pemanenan ikan. Buku panduan ini dirancang sebagai pegangan jangka panjang bagi pengelola, bahkan setelah masa KKN berakhir.
Melalui pendampingan KKN, kelompok pengelola mulai diperkenalkan pada berbagai sudut pandang baru dalam budidaya perikanan. Kolam ikan berpotensi menjadi sumber pendapatan utama jika dikelola dengan tepat. Tidak hanya itu, Bintang juga melihat sejumlah strategi untuk meningkatkan kinerja kolam di masa depan, seperti memastikan sertifikasi indukan saat membeli benih, menentukan komoditas budidaya sejak awal agar sesuai dengan jenis kolam, serta memperkuat sinergi dan koordinasi antar-pengurus. Pendekatan budidaya yang lebih terukur, seperti konsep ad satiation atau pemberian pakan hingga ikan benar-benar kenyang, juga menjadi salah satu rekomendasi untuk mendorong pertumbuhan ikan secara optimal.
Kolam ikan Kedung Kepis diharapkan menjadi sumber pendapatan bersama dua RT sekaligus contoh praktik baik pengelolaan perikanan desa yang berkelanjutan. Didukung oleh pengetahuan, kekompakan pengelola, dan sinergi program KKN, kolam ikan ini berpeluang tumbuh sebagai fondasi ketahanan pangan desa yang berkelanjutan dan menginspirasi dusun-dusun lainnya di Desa Sidomulyo.
